LUBUKLINGGAU – Pengusut dugaan penembakan yang menewaskan seorang warga dalam insiden pencurian durian di rumah oknum pegawai Lapas Kelas IIA Lubuklinggau beberapa bulan lalu dinilai makin tidak jelas. Ketua LSM Kanti Sancik, Sip., melontarkan kritikan pedas atas respons Kalapas Lubuklinggau yang baru, Rahmat, sekaligus mendesak Polres Lubuklinggau transparan menuntaskan kasus tewasnya korban.

Sikap Kalapas yang terkesan 'cuci tangan' dan sekadar berlindung di balik alasan administratif dinilai sangat melukai rasa keadilan masyarakat.

"Nyawa manusia sudah melayang, tapi tanggapan Kalapas baru justru terkesan sangat enteng. Hanya bilang pegawainya ditarik ke Kanwil dan belum sempat mengikuti perkembangan di Polres. Ini kasus penembakan yang menelan korban jiwa, bukan masalah pelanggaran disiplin biasa yang cukup diselesaikan dengan penarikan tugas!" tegas Ketua LSM Kanti Sancik, Sip.

LSM Kanti Sancik menilai penarikan oknum pegawai ke Kantor Wilayah tidak boleh menjadi cara untuk mengulur waktu atau mendinginkan suasana agar kasus ini dilupakan publik.

Selain menyoroti Pihak Lapas, desakan keras juga diarahkan ke markas Polres Lubuklinggau agar bertindak tegas dan tidak tebang pilih dalam mengusut tewasnya korban.

"Polres Lubuklinggau harus buka suara secara transparan. Sampai mana proses hukumnya? Apakah oknum tersebut sudah diproses pidana? Jangan sampai ada kesan pembiaran atau perlindungan terhadap oknum aparat hanya karena korbannya dituduh mencuri. Hukum harus ditegakkan seadil-adilnya tanpa pandang bulu," lanjutnya.

Kasus penembakan hingga meninggal dunia ini menjadi ujian serius bagi profesionalisme Polres Lubuklinggau dan transparansi instansi Lapas di mata masyarakat.(Redaksi)